Tuesday, July 10, 2018

Perangi Cyber Crime melalui Edukasi Masyarakat



Saat ini kejahatan di dunia maya atau cyber crime menjadi tren yang marak di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Semakin meningkat dan pesatnya teknologi digital dapat  membawa dampak positif bagi berbagai lapisan kehidupan masyarakat. Efek negatif dari penggunaan teknologipun menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Konsekuensi berupa cyber crime atau kejahatan di dunia maya pun seakan menjadi permasalahan yang terus mengikuti dibelakang perkembangan teknologi itu sendiri.

Tingginya angka cyber crime di Indonesia dapat dilihat berdasarkan data dari laporan State of The Internet tahun 2013 yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara dengan urutan kedua dalam kasus cyber crime di dunia, dengan angka mencapai 36,6 juta serangan. Sejak tahun 2012 sampai dengan April 2015, sub unit cyber crime Kepolisian Indonesia juga telah menangkap 497 orang tersangka kasus kejahatan di dunia maya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 389 orang di antaranya merupakan warga negara asing, dan 108 orang merupakan warga negara Indonesia. Berdasarkan data tersebut yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan situasi gawat cyber crime dan hal ini bukanlah permasalahan yang dapat diabaikan begitu saja.

Pemerintah melalui pihak Kepolisian Indonesia, Kominfo, serta pihak-pihak yang terkait, telah melakukan usaha pemberantasan kasus-kasus cyber crime di Indonesia hingga tindakan preventif berupa sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat umum. Langkah –langkah ini tentu tidak akan berjalan efektif jika tidak didukung oleh stakeholder lainnya seperti masyarakat. Namun, angka cyber crime yang tinggi bukanlah hal yang perlu ditakuti dan lantas membuat kita takut menggunakan teknologi digital. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut dan tentunya akan diulas secara mendalam dalam artikel ini.

Definisi Cyber Crime
Img : Stocksnap

Cyber crime adalah sebuah istilah yang mengacu kepada aktivitas kejahatan dengan menggunakan  komputer atau jaringan komputer sebagai alat, atau sebagai sasaran serta lokasi terjadinya kejahatan. Meskipun kejahatan dunia maya atau cyber crime umumnya mengacu kepada aktivitas kejahatan dengan menggunakan komputer atau jaringan komputer sebagai unsur utamanya, istilah ini juga digunakan untuk kegiatan kejahatan tradisional dimana komputer atau  jaringan komputer digunakan untuk mempermudah atau memungkinkan kejahatan itu terjadi seperti bullying, pornografi, serta penculikan yang menggunakan teknologi digital dalam melakukan aksinya. Jadi cyber crime bukan hanya tentang retas-meretas atau kebocoran data, namun lebih luas dari itu.


Permasalahan Cyber Crime di Indonesia
Img : Stocksnap

Permasalahan cyber crime di Indonesia telah menjadi fokus utama sejak beberapa tahun terakhir karena maraknya kejahatan di dunia maya ini. Beberapa permasalahan cyber crime tersebut antara lain :
  • Pencurian dan penggunaan account internet milik orang lain. Berbeda dengan kasus pencurian yang melibatkan hal fisik, dalam kasus kehilangan di cyber crime melibatkan pihak lain (hacker) yang mencuri informasi dari akun orang lain dan menyalahgunakannya tanpa sepengetahuan dan seizin pemilik account yang asli.
  • Membajak situs web. Masih ingatkah Anda dengan pembajakan situs salah satu provider di Indonesia yang viral karena ulah seorang hacker dengan mempublish tulisan bernada protes kepada pihak provider karena terlalu mahal? Nah, salah satu kegiatan cyber crime pembajakan website adalah dengan mengubah tampilan beranda suatu website sesuai dengan yang peretas inginkan.
  • Probing dan port scanning atau pengintaian. Seorang hacker sebelum melakukan pembajakan atau pencurian data sebuah website biasanya melakukan pengintaian terlebih dahulu. Hal yang dilakukan termasuk diantaranya adalah mengidentifikasi server yang digunakan hingga sistem keamanan yang digunakan. Analoginya seperti ini, ketika seseorang telah menargetkan pencurian suatu rumah mewah. Maka mereka akan melakukan pengintaian kepada rumah tersebut, melihat kebiasaan pemilik rumah hingga mengidentifikasi merk pintu dan jendela untuk memudahkan pencurian mereka nanti. Hal seperti ini juga sudah menjadi bagian dari cyber crime karena sifatnya mengganggu kenyamanan orang lain.
  • Virus. Cyber crime ini merupakan hal yang paling sering kita jumpai atau dengar. Virus menyebar layaknya penyakit pada tubuh seseorang, sifatnya yang ingin menguasai suatu perangkat membuatnya memiliki efek negatif pada perangkat tersebut, mulai dari menjadikan perangkat lambat, menginfeksi file penting hingga mendatangkan virus lain jika terhubung dengan internet.
  • Denial of Service (DoS) dan Distributed DoS (DDos) attack. Cyber crime jenis ini bertujuan untuk melumpuhkan target. Cyber crime ini tidak bertujuan untuk memalsukan data, atau mengambil informasi namun hanya membuat website tersebut tidak bisa diakses atau lumpuh. Cyber crime jenis ini banyak terjadi dan ditemukan dalam perusahaan yang bergerak di industri atau bidang finansial/keuangan.


Upaya Mengatasi Cyber Crime
Img : Stocksnap

Tindakan cyber crime yang tidak sedikit memakan korban, pada akhirnya akan mendorong banyak pihak untuk berupaya mengatasinya baik dari segi regulator yakni pemerintah, maupun stakeholder lainnya seperti swasta, maupun masyarakat itu sendiri. Adapun beberapa hal yang bisa mendorong pencegahan tindakan cyber crime adalah sebagai berikut :

  • Educate User. Melakukan edukasi kepada masyarakat pelaku IT untuk lebih waspada terhadap cyber crime.
  • Use Hacker Perspective. Pentingnya menggunakan perspektif peretas agar kita mengetahui tindakan yang perlu dilakukan untuk mengamankan sistem.
  • Perkuat keamanan sistem dan patuhi aturan yang berlaku. Anda bisa menggunakan security pihak ketiga agar memperkuat sistem dan patuhi aturan dari pemerintah sehingga keamanan sistem juga dapat lebih terjamin.

Upaya Pemerintah Indonesia
Img : Stocksnap
Permasalahan cyber crime yang kompleks harus ditangani secara sistematis dan terstruktur yang melibatkan peran pemerintah dalam penyelenggara negara sekaligus regulator yang berhak atas keamanan negara. Indonesia yang menempati urutan teratas dalam cyber crime di dunia telah melakukan berbagai upaya pencegahan hingga penanggulangan cyber crime, diantaranya :
  • Undang-Undang ITE. Sebagai pendekatan hukum terhadap keamanan cyber, Indonesia telah memiliki Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik untuk mencegah terjadinya cyber crime, namun UU ini masih harus dievaluasi kembali karena banyak pasal yang kurang relevan.
  • Pemblokiran. Upaya ini dilakukan pemerintah untuk melindungi anak-anak atau remaja Indonesia terpapar konten negatif seperti situs porno dan berita hoax. Pemerintah dapat menggunakan sistem penyaringan seperti Trust Positif, DNS Nawala dan Sistem Whitelist Nusantara yang menyediakan rekomendasi situs-situs positif.
  • Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Pada tahun 2017 kemarin pemerintah membentuk sebuah badan untuk mencegah terjadinya cyber crime yang memiliki 8 fungsi. Diantaranya terkait dengan identifikasi, deteksi, proteksi dan penanggulangan e-commerce, persandian, diplomasi cyber, pusat manajemen cyber crime, pemulihan penanggulangan kerentanan, insiden dan/atau serangan cyber.
  • Fokus SDM. Pemerintah menyelenggarakan berbagai program yang fokus kepada pembenahan SDM yang terlatih seperti pelatihan agen perubahan informatika (internet CAKAP dan Relawan TIK) serta penyelenggaraan kompetisi yang berbasis teknologi.

Edukasi Masyarakat untuk Melawan Cyber Crime
Img : Stocksnap

Dalam menangani cyber crime, tidak hanya dilakukan melalui pendekatan teknologi, upaya pemblokiran atau sekedar membentuk Undang-Undang. Namun, pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan unsur penting dalam mengatasi cyber crime ini. Upaya edukasi terhadap masyarakat saat ini telah dilakukan oleh pemerintah maupun pihak swasta, diantaranya adalah :
  • Meningkatkan kesadaran dan perhatian orang tua terhadap pengawasan anak. Upaya pencegahan ini dilakukan dengan cara orang tua harus mengetahui bentuk proses digital dan dengan berkomunikasi lebih intens lagi kepada anak, dibanding dengan membiarkannya menjelajahi internet yang tidak memiliki sekat ruang dan waktu. Upaya pemblokiran situs-situs dewasa oleh Pemerintah juga harus didukung oleh orang tua sebagai fasilitator pertama anak.
  • Kepolisian Republik Indonesia juga telah meluncurkan program pengamanan anak di dunia maya (save children on the internet) guna mencegah anak terpapar konten-konten negatif yang ada di Internet.
  • Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang baru saja dibentuk bisa menjadi bahan sosialisasi kepada masyarakat dalam penanggulangan cyber crime dan badan aduan masyarakat terkait serangan-serangan malware.
  • Pendekatan sosiokultural dan sosialisasi masyarakat melalui seminar, pelatihan dan kompetisi. Beberapa pelatihan yang telah diadakan dan akan terus diadakan adalah pelatihan agen perubahan informatika (internet CAKAP dan Relawan TIK) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bidang networking dan melakukan pelatihan-pelatihan ke sekolah dan universitas-universitas untuk mensosialisasikan materi mulai dari jaringan, mikrotik, hingga pemanfaatan internet sehat.
  • Pembuatan video animasi digital hero Indonesia (Digiro) sebagai bentuk sosialisasi pemerintah bagaimana memanfaatkan internet dengan baik dan benar.
  • Melalui penyelenggaraan berbagai kompetisi seperti INAICTA, AICTA, Duta Internet CAKAP, dan Kartini Next Generation. Kompetisi ini diselenggarakan untuk sebagai ajang pembelajaran yang selain dapat mengakomodir bakat masyarakat terhadap dunia digital, juga sebagai ajang untuk pembelajaran terhadap pencegahan tindakan cyber crime.

Cyber crime tidak bisa dipungkiri akan selalu ada karena perkembangan teknologi yang pesat, dan diikuti oleh pola hidup masyarakat yang saat ini telah bergeser menjadi sebuah ketergantungan dalam menggunakan teknologi di kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, melakukan tindakan preventif terhadap kejahatan cyber crime sedini mungkin dapat memperkecil masalah serangan cyber crime, sehingga keamanan dalam berteknologi dapat dicapai semua kalangan dan lapisan masyarakat.



Tuesday, November 28, 2017

Backup, Restore, dan Recovery Data


Kebutuhan backup bagi masyarakat modern di era digital ini telah menjadi kebutuhan yang utama. Saat ini bukan hanya praktisi di bidang teknologi informasi saja yang telah menggunakan teknologi-teknologi berbasis komputasi. Melainkan telah banyak masyarakat umum, individu, dan organisasi-organisasi lainnya yang telah mengerti dan memahami pentingnya menggunakan teknologi backup berbasis cloud untuk mengamankan sebuah data. Backup berfungsi untuk mengamankan data, artinya backup dapat difungsikan sebagai cara untuk melakukan restore data apabila sewaktu-waktu data rusak, hilang, terkena virus, atau hilang.

Masyarakat modern adalah masyarakat yang ‘sibuk’. Semua pekerjaan bisa saja terjadi selama 24 jam tanpa henti. Dan tentu juga dapat terjadi pada saat weekend atau hari libur lainnya. Semua hal dan pekerjaan yang dilakukan selalu membutuhkan jaringan dan koneksi internet. Maka dari itu, kebutuhan apapun termasuk data, akan lebih baik, lebih efisien, dan lebih cepat aksesnya jika menggunakan akses internet. Bagaimana cara memperoleh data dari cloud system? Tentu saja melalui penyimpanan seperti Google Drive, Microsoft One Drive, atau Dropbox jika Anda ingin sesuatu yang free. Namun tentunya selalu ada batasan tertentu untuk segala hal yang gratis, seperti misalnya terbatasnya storage yang diberikan kepada free user, serta limit fitur-fitur lain yang dimiliki oleh platform tersebut.

Pada kenyataannnya, kebutuhan akan backup tidak dapat dipungkiri lagi bagi segala jenis lapisan masyarakat. Mulai dari bidang pekerjaan dan perkantoran, hingga bidang pendidikan dan entertainment semua memiliki kebutuhan akses data yang cepat, mudah / simple dan efisien. Selain berfungsi sebagai cadangan data, backup juga dapat berfungsi sebagai sistem untuk melakukan restore data. Untuk memahami hal ini lebih lanjut, mari kita simak penjelasan lebih lanjut dalam pembahasan artikel berikut ini.


Pengertian Backup
Untuk memahami tentang manfaat dan fungsi backup secara keseluruhan, serta bagaimana cara backup dapat membantu Anda, maka akan lebih baik apabila memahami terlebih dahulu tentang pengertian dari backup itu sendiri. Backup adalah sebuah proses menduplikasi atau mengcopy data-data dari satu perangkat atau media penyimpanan ke media, perangkat atau sistem lain secara offline maupun online untuk mengamankan data dengan cara menyalin data, agar ketika salah satu media penyimpanan rusak, hilang, atau terkena vidrus, data-data penting yang dimiliki tidak ikut hilang, tidak rusak, serta kapanpun dan dimanapun tetap dapat diakses dengan mudah.

Backup memiliki fungsi utama dan beberapa fungsi lainnya. Fungsi backup data adalah menyelamatkan data-data dari resiko kerusakan, data yang hilang atau tidak dapat diakses kembali. Data yang tersimpan di tidak hanya satu media penyimpanan akan memberikan rasa aman karena data tersimpan dengan benar. Backup juga dapat difungsikan sebagai disaster recovery plan, yaitu untuk restore data. Pada dasarnya backup bertujuan untuk mengembalikan data-data yang hilang, rusak, corrupt, maupun terkena virus. Anda tidak akan pernah tahu hal-hal apa yang mungkin dapat terjadi pada media penyimpanan Anda, maka akan lebih baik apabila memiliki tidak hanya satu media penyimpanan data. Sehingga ketika sewaktu-waktu data utama hilang, Anda masih dapat mengembalikan data-data secara penuh tanpa adanya kerusakan maupun kehilangan.


Pengertian Restore
Img : Pixabay

Restore berasal dari Bahasa Inggris yang artinya mengembalikan. Sesuai dengan artinya, restore adalah proses mengembalikan kembali sebuah data atau file ketempat semula. Jadi misalnya data Anda terhapus secara tidak sengaja, maka Anda masih dapat mencari file data tersebut dalam recycle bin komputer untuk kemudian dikembalikan ketempat lokasi semula file itu berada, di suatu folder tertentu. Hal ini juga berlaku untuk sistem maupun aplikasi yang telah terinstall. Lantas bagaimana jika data yang terhapus tersebut sudah tidak berada dalam recycle bin padahal data tersebut sangat penting, masih dibutuhkan dan tidak sengaja terhapus? Tentu saja solusi terbaik adalah memiliki backup data di suatu media penyimpanan lainnya.


Fungsi Restore Data
Seperti prinsip backup, restore bersifat untuk mengembalikan data, file, maupun system dalam keadaan semula. Ada dua jenis restore data, yang pertama adalah system restore dan yang kedua adalah system image backup. System storage data dilakukan untuk melakukan pengembalian pengaturan software dan sistem aplikasi yang telah terinstall didalam sistem komputer tanpa mempengaruhi data-data personal yang ada didalamnya. Jadi jika ingin melakukan pengembalian konfigurasi program-program yang telah terhapus menjadi seperti sedia kala, dapat melakukan system restore. Sedangkan system image backup dilakukan untuk mengembalikan seluruh system aplikasi beserta file-file personal berupa data dan media lainnya. Jadi tipe restore ini lebih menyeluruh karena dapat mencakup restore data beserta sistemnya seperti sedia kala.

Fungsi restore seperti ini tentu saja untuk mengembalikan data-data maupun sistem kedalam kedalam keadaan awal sebelum terjadi reset maupun kerusakan program. Maka dari itu, apa perbedaan backup dan restore?  Secara prinsip, restore memang hampir sama dengan backup yang memiliki tujuan untuk menyelamatkan data. Bedanya, jika backup ini cara kerjanya dengan cara menduplikasi data, sedangkan restore yang bertugas mengembalikan data maupun sistem sama seperti pada keadaan awalnya.


Pengertian Backup Restore dan Recovery
Img : Stocksnap



Backup dan restore adalah hal yang saling berkaitan dan saling mendukung satu sama lain. Backup memang memiliki arti dan fungsi yang hampir mirip dengan restore yaitu menyelamatkan data-data. Untuk membuat sebuah disaster recovery yang tepat, memang harus mempertimbangkan untuk membuat disaster recovery plan yang baik. Disaster recovery plan ini sebaiknya memang tidak hanya sekedar menyiapkan backup untuk membuat cadangan data. Namun juga dalam waktu bersamaan juga menyiapkan sistem dan aplikasi yang memungkinkan untuk melakukan restore data. Tujuannya adalah agar apabila ada kemungkinan restore kurang berhasil dilakukan, yaitu dalam artian restore kurang berhasil 100% karena mungkin masih ada beberapa data-data yang ingin dikembalikan kedalam sistem dan storage namun masih ada yang kurang lengkap, maka backup dapat mengatasi masalah tersebut dengan cara menyediakan data-data yang kurang atau hilang tersebut. Maka dari itu sangat penting untuk melakukan backup secara berkala dan rutin. Yaitu tergantung atas seberapa sering data-data yang dimiliki terupdate atau diperbaharui. Semakin sering data terupdate, maka Anda juga harus melakukan interval backup yang sama dengan frekuensi update data tersebut. Dengan memiliki backup data yang terbaru, maka jika terjadi kesalahan dalam restore, data-data Anda akan tetap update dan terbaru. Satu hal yang penting adalah dengan membackup data-data dan file sebelum data-data tersebut terkena serangan dan infeksi virus. Karena data-data yang telah terinfeksi oleh virus akan ikut terbackup dan backup tersebut akan menjadi sia-sia karena pada saat Anda mengakses atau mengambil data tersebut dari media penyimpanan backup, data sudah dalam keadaan terinfeksi virus dan bukan tidak mungkin juga bisa mengakibatkan kerusakan perangkat gadget, sistem komputer, serta peralatan komputer yang digunakan.


Perbedaan Backup Restore dengan Recovery
Jika backup dan restore berfungsi untuk mengembalikan data-data dan sistem seperti keadaan awal, fungsi recovery adalah untuk memulihkan keadaan suatu sistem dalam berbagai kasus tertentu. Biasanya suatu sistem menjadi rusak atau error dapat disebabkan melalui faktor internal dan eksternal. Dari faktor internal misalnya karena kelalaian manusia / human error, kerusakan hardware, maupun kurangnya maintenance dan perawatan. Sedangkan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kerusakan sistem dapat terjadi karena sistem terkena virus. Maka bagaimana caranya sistem tersebut harus terbebas dan bersih dari infeksi virus tersebut agar sistem kembali dapat beroperasi seperti keadaan semula dan dapat difungsikan dengan baik dan maksimal. Biasanya anti virus digunakan untuk mencegah datangnya serangan virus, atau bisa juga untuk meminimalisir dampak serangan virus terhadap software maunpun hardware. Namun apa yang terjadi jika virus sudah terlanjur masuk kedalam sistem? Tentu ada beberapa program yang digunakan untuk ‘mengusir’ atau ‘mematikan’ virus tersebut. Namun jika upaya tersebut masih juga belum berhasil, apa yang bisa dilakukan? Biasanya hal yang dilakukan adalah dengan cara mereset atau mengulang kembali sistem. Cara ini merupakan salah satu langkah recovery untuk mengembalikan sistem kedalam keadaan awal sebelum rusak atau error, serta menghapus virus yang ada didalam sistem tersebut.


Backup, Restore, dan Recovery Data di Masa Mendatang
Img : Pixabay

Ada yang dicari masyarakat digital di era mendatang? Dalam ranah keamanan data, tentu saja proses backup yang lebih cepat, perlindungan yang lebih baik untuk alat-alat virtual, serta solusi pengarsipan / identifikasi untuk membantu mempermudah mengidentifikasi serta menemukan data secara lebih cepat untuk melakukan backup dan keamanan data. Selain itu kepentingan dan kebutuhan untuk melakukan recovery data akan tetap diperlukan di masa mendatang, bahkan justru akan semakin tinggi. Mengapa? Karena ancaman berbagai virus dan Ransomware yang juga selalu mengalami perubahan dan kemajuan juga akan semakin mengkhawatirkan. Ransomware dapat menyerang berbagai macam bidang kehidupan, mulai dari perkantoran, gadget dan smartphone, smartcar, rumah sakit, hingga sekolah-sekolah. Maka dari itu kebutuhan melindungi data dan sistem juga akan semakin tinggi. Dan backup adalah salah satu base perlindungan paling dasar yang wajib dimiliki oleh semua individu dalam masyarakat digital mendatang.





Tuesday, November 7, 2017

Manajemen Data dapat Mencegah Data Loss


Kumpulan berbagai macam informasi yang terdiri dari file, foto, video dan lain sebagainya merupakan definisi dari sebuah data. Data dibuat dan berada dimana-mana, di berbagai sektor dan bidang kehidupan. Semua orang menghasilkan data, bahkan untuk hal terkecil sekalipun. Misalnya saja Anda mencatat agenda dan to do list pada smartphone, maka hal tersebut sudah termasuk sebagai sebuah data. Bagaimana dengan interaksi yang Anda lakukan di social media? Misalnya mengupload sebuah foto di Instagram? Tentu saja hal tersebut juga termasuk kedalam sebuah definisi dari sebuah himpunan data. Data berada dimana-mana, dan dibuat oleh siapa saja. Data ada dalam sebuah perusahaan, pekerjaan, sektor-sektor industri, bisnis start up, industri kreatif, dan lain sebagainya. Penyimpanan data ini sendiri dapat dilakukan melalui dua metode yaitu secara offline maupun online. Namun di era digitalisasi ini, metode penyimpanan data secara online yang telah terintegrasi dengan sistem cloud computing akan lebih mudah dalam akses dan pengelolaannya.

Dengan kata lain, seluruh aktifitas yang dilakukan manusia akan menghasilkan berbagai macam data. Lalu pernahkan terlintas dipikiran Anda, dimana data-data tersebut disimpan? Katakanlah seseorang mengupload gambar di social media yaitu Instagram, tentu Instagram memiliki basis penyimpanan data tertentu di suatu tempat yang telah terintegrasi dengan sistem cloud. Dimana dan bagaimana data Anda disimpan oleh Instagram? Apakah data-data tersebut aman?

Kumpulan dari berbagai macam data biasanya diletakkan dalam satu database. Database adalah kumpulan dari berbagai macam data. Database berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan dan mengelompokkan data secara sistematis dan terorganisir supaya lebih memudahkan dalam mengakses data-data, maintenance data, serta pengelolaan data-data yang berada dalam database tersebut. Data-data yang dihasilkan oleh berbagai jenis sumber file dan media ini terpusat pada sebuah sistem database yang aman. Database memproses data-data yang masuk kedalam sistem sebagai basis pengolahan data sehingga menjadi sebuah informasi yang bermanfaat. Pada dasarnya, database berfungsi untuk mempermudah semua jenis pekerjan manusia terkait dengan data-data, angka, dan kategori atau klasifikasi. Dasar utama dari sebuah database yaitu mengelompokkan sekumpulan objek dengan kategori sama yang terdefinisikan. Misalnya sebuah data yang memiliki karakteristik yang sama antara satu dengan lainnya, maka dapat dikelompokkan kedalam satu kategori dan berada pada database yang sama. Database memiliki basic elemen-elemen penting diantaranya adalah  Database Management System (DBMS), yaitu sebuah software yang bertugas untuk mengelola basis data dan dan mengoperasikannya. Elemen kedua adalah database administrator yang bertugas untuk mengelola sumber daya database. Elemen ketiga adalah database fisik, yaitu segala jenis database yang berbentuk fisik. Dan kemudian elemen keempat, elemen terakhir adalah user atau pengguna dari database tersebut.


Apa Saja yang Tergolong kedalam Manajemen Data
Img : Freepik

Tentu saja data-data dalam database harus dimanage dengan baik, supaya data tetap update, aman, serta dapat diakses dengan mudah. Manajemen data diperlukan untuk mendapatkan database yang terorganisir dan terstruktur. Terdapat beberapa langkah atau tahapan dalam penyusunan data database. Beberapa kegiatan manajemen data antara lain adalah sebagai berikut :
  • Tahapan pengumpulan data
    Pada tahapan ini, sistem akan menerima  segala data yang masuk, dan akan mengkategorisasikannya sebagai sebuah input bagi sistem database.
  • Tahapan pengujian data
    Tahapan ini bertujuan untuk mengetahui akurasi dan konsistensi data
  • Tahapan penyimpanan data
    Penyimpanan data dapat dilakukan secara offline maupun online yang telah terintegrasi dengan sistem cloud
  • Tahapan pemeliharaan data
    Tahap ini digunakan untuk melakukan update data-data yang ada, yaitu menambahkan data-data yang perlu pembaruan, bahkan mengedit dan menghapus data yang sudah tidak lagi diperlukan
  • Tahapan keamanan dan perlindungan data
    Dalam tahap ini, data-data yang tersimpan dalam database harus terjamin keamanannya dari serangan hacker, virus, dan tindak pencurian data lainnya
  • Tahapan pengaturan atau organize
    Tahapan ini berfokus pada pengkategorisasian serta penyusunan data sehingga sesuai dengan kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh user
  • Tahapan pengambilan atau penggunaan data oleh user
    Dalam tahap ini, dapat diakses dari database serta digunakan sesuai dengan keperluan masing-masing user


Fungsi Manajemen Data bagi Individu dan Perusahaan / Organisasi
Img : Freepik

Manajemen data memiliki peran besar dalam keberlangsungan dan pencapaian sebuah kesuksesan di suatu perusahaan atau organisasi. Bagaimana tidak, saat ini segala aktifitas online dan offline yang terjadi dalam sebuah perusahaan besar tentunya tidak terlepas dari input dan output berbagai jenis data. Dan manajemen data merupakan salah satu dari banyaknya tindakan yang harus dilakukan untuk membuat sistem yang terstruktur dan terkoordinir dengan baik.

Selain hal tersebut, masih ada manfaat lain dari manajemen data, diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Untuk memudahkan restorasi data dan backup. Tentunya data-data yang aman tersimpan dalam suatu database serta terorganisir dengan baik dapat diandalkan sebagai sebuah tempat penyimpanan pusat yang dapat difungsikan sebagai backup. Backup atau duplikasi data sendiri sangat penting untuk mengamankan data-data dari kerusakan dan keghilangan data. Jika backup data ada dan aman, maka data akan lebih mudah untuk direstorasi atau dikembalikan sesuai data yang ada.
  • Dapat membantu proses disaster recovery planning
    Kerusakan dan kehilangan data adalah hal yang paling dihindari oleh sebagian besar orang, perusahaan, institusi, dan organisasi. Maka dari itu, backup data dapat membantu mengurangi kemungkinan resiko ini. Dengan demikian, backup data merupakan bagian penting dari sebuah disaster recovery planning yang paling tepat.
  • Membuat planning dan konfigurasi untuk penyimpanan tahap lanjut
    Manajemen data memungkinkan untuk menyusun sebuah konfigurasi atau pengaturan yang nantinya akan memudahkan dalam tahapan penyimpanan data, baik itu secara offline atau online. Namun bentuk penyimpanan data lebih dianjurkan secara online, yaitu agar lebih mudah dalam akses serta konfigurasi sistem, software, dan aplikasi.
  • Redudansi data
    Duplikasi data memang sedikit beresiko terhadap kesamaan data sehingga data menjadi menumpuk-numpuk dalam database. Maka dari itu, untuk menghindari penyimpanan secara berulang kali, perlu dibuat sebuah sistem manajemen data yang dapat memisahkan data-data secara jelas dalam sebuah database. Namun pada dasarnya redudansi data diperlukan karena jika sewaktu-waktu data mengalami masalah, error, atau hilang, data cadangan dapat dengan cepat menggantikan data tersebut.
  • Mengurangi resiko inkonsistensi data
    Resiko ini merupakan kesamaan data akibat dari adanya kesalahan atau error dalam sistem input data. Tentunya kemungkinan inkonsistensi data akan selalu ada, apalagi jika data yang diolah sangat banyak. Namun dengan manajemen data yang baik, hal ini dapat dihindari atau setidaknya dikurangi kemungkinan terjadinya.
  • Mengatasi kesulitan dalam akses dan pengambilan data
    Manajemen data dapat mempermudah serta mempersingkat waktu ketika ingin mengakses data-data yang diperlukan. Karena semua sudah tergolong dan terkoordinasi dengan baik sesuai dengan masing-masing database yang telah diklasifikasikan.


Ciri-Ciri Infrastruktur Database
Img : Freepik

Didalam teknologi dalam infrastruktur database itu sendiri, ada dua teknologi infrastruktur yaitu yang pertama adalah High Performance Computing Cluster (HPCC) atau disebut juga sebagai Data Analytics Supercomputer (DAS). Dan yang kedua adalah Hadoop Platform atau Map Reduced-Based Platform). Dimana kedua teknologi ini memiliki ciri-ciri yang hampir sama dalam hal prinsip pengoperasiannya, yaitu sama-sama menggunakan sistem cluster dalam pengelompokan serta input data. Cluster artinya adalah menggunakan lebih dari satu sumber sebagai penghasil data. Misalnya saja lebih dari satu komputer atau aplikasi yang digunakan. Dengan demikian, kedua platform ini lebih menguntungkan karena dapat mendukung satu sama lain, dan saling terintegrasi dengan baik. Proses pencarian serta processing data dapat dilakukan oleh kedua teknologi tersebut.

Manajemen data harus dilakukan secara teratur, rutin, dan sistematis. Hal ini dilakukan agar diperoleh database yang terintegrasi dengan baik. Salah satu ciri manajamen data adalah adanya pengelompokan data agar lebih mudah dalam pengelolaan akses, serta duplikasi. Data yang tersimpan dalam sebuah database juga perlu untuk selalu diupdate dan dicek secara berkala untuk mengetahui kerusakan atau mungkin error yang terjadi dalam data. Anda tentu tidak menginginkan data-data yang dimiliki tiba-tiba tidak dapat diakses karena misalnya rusak terkena virus. Maka dari itu, sistem manajemen data yang baik, harus mencakup keseluruhan elemen yang diperlukan oleh sebuah database, mulai dari organisasi hingga perlindungan dan keamanan.