Monday, March 25, 2019

Lindungi Data Bisnis Anda dengan Disaster Recovery Plan (DRP)

Gambar: Bencana pada sistem IT (sumber: pixabay.com)

Bisnis mengadopsi teknologi informasi dengan sangat cepat. Pemrosesan data serta segala aktivitas bisnis tidak hanya menggunakan konsep manual lagi, melainkan telah terdigitalisasi. Aktivitas sehari-hari seperti mengirim email, menelepon menggunakan aplikasi atau platform berbasis internet, hingga pembayaran gaji karyawan atau kebutuhan finansial lainnya dapat dilakukan melalui internet. Untuk melakukan berbagai hal, sekarang Anda tinggal memanfaatkan smartphone maupun gadget dan komputer yang Anda miliki. Perubahan dalam bentuk digitalisasi mengakibatkan sebuah bisnis harus membangun suatu sistem yang efisien serta efektif untuk kebutuhan internal maupun eksternal perusahaan. Digitalisasi bisnis tersebut akhirnya juga dapat membuat suatu perusahaan menerapkan kebijakan baru terkait keamanan data. 

Dahulu, penyimpanan data dilakukan dengan cara tradisional, yaitu dengan cara menyimpan kertas data kedalam brankas maupun lemari arsip, kemudian evolusi digital mulai terjadi dengan metode penyimpanan data pada hard drive seperti hard disk, flashdisk, dan lain sebagainya. Namun, saat ini metode serta media penyimpanan data tersebut sudah dianggap tidak aman, hal ini dikarenakan, media penyimpanan tersebut tidak menawarkan sisi fleksibilitas yang saat ini justru sangat dibutuhkan oleh suatu perusahaan dalam menyimpan data maupun informasi yang dimilikinya.

Migrasi data ke sistem cloud juga menjadi penanda bahwa era industri digitalisasi telah dimulai. Data yang disimpan pada sistem cloud lebih mudah diakses serta mudah dalam pengelolaannya. Data cloud juga dapat diakses oleh user yang memiliki akses tersebut dimanapun dan kapanpun asal terkoneksi dengan jaringan internet. Hal-hal konvensional lain seperti tempat dan waktu sudah bukan penghalang bagi suatu bisnis yang ingin mengakses dan mengolah data-datanya. Namun kemudahan serta fleksibilitas cloud ini sering dianggap lawan dari sisi keamanan itu sendiri. Pada dasarnya sistem cloud didesain tidak hanya menggunakan satu layer keamanan, melainkan berlapis-lapis mulai dari tier 1 hingga tier 3 bahkan lebih. Kelebihan inilah yang mengakibatkan cloud dipercaya karena fleksibilitas serta keamanannya yang terjaga.

Keamanan yang terjaga dan dapat diandalkan ini merupakan keharusan layanan cloud agar mendapat kepercayaan dari konsumen. Garansi less down time serta lokasi data center yang aman serta strategis, dan tentunya server yang aman merupakan tanggung jawab yang harus dimiliki oleh perusahan provider cloud. Tujuannya adalah supaya data-data yang tersimpan pada sistem cloud terhindar dari resiko-resiko yang dapat mengakibatkan data hilang atau rusak. Setelah semua persyaratan terpenuhi, pertanyaan lain yang muncul adalah bagaimana tentang bencana yang tiba-tiba atau tidak dapat diprediksi? Bagaimana cara mengatasi bencana serta merencanakan Disaster Recovery Plan (DRP) yang baik dan tepat? Apakah setiap perusahaan harus memiliki Disaster Recovery Plan? Apakah layanan Disaster Recovery Plan termasuk kedalam layanan yang disediakan oleh sebuah perusahaan provider cloud?

Apa yang Dimaksud dengan Disaster Recovery Plan (DRP)
Disaster Recovery Plan atau DRP merupakan suatu tindakan yang dilakukan sebelum dan sesudah bencana terjadi. Menyusun atau membuat DRP bertujuan untuk meminimalisir dampak diakibatkan oleh sebuah bencana, misalnya untuk melindungi data-data penting dari bisnis yang Anda miliki seperti data penjualan, perilaku konsumen hingga data-data sensitif yang berkaitan dengan konsumen. Hal yang perlu menjadi fokus dalam mengadopsi sistem Disaster Recovery Plan (DRP) adalah memahami fakta bahwa bencana merupakan sesuatu yang tidak dapat diprediksi, direncanakan, namun bisa dihindari. DRP membantu mengembalikan fungsi-fungsi critical sebuah sistem ke fungsi awal atau semestinya setelah terkena bencana. DRP dapat membantu meminimalisir dampak kerusakan yang dapat berpotensi mengganggu bisnis Anda. DRP juga dapat mengembalikan operasional perusahaan dengan cepat.

Mengapa Disaster Recovery Plan (DRP) ini Penting?
Telah banyak kasus data loss maupun pencurian data dalam dunia teknologi dewasa ini. Sebuah kesalahan sederhana dapat berujung menjadi sebuah bencana bisnis yang berkaitan dengan keuangan perusahaan. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh National Small Business Poll atau NFIB, sebesar 10% disaster disebabkan oleh faktor human error dan bersifat teknis. Sedangkan secara mengejutkan, sebesar 30% disebabkan oleh bencana alam. Hal sederhana seperti hujan dapat menyebabkan listrik padam dan menyebabkan resiko kerugian yang besar. Menurut penelitian yang dilakukan oleh University of Texas, menunjukkan fakta bahwa hanya 6% perusahaan yang mampu bertahan dan mengembalikan data mereka, sebanyak 43% data tidak dapat diakses kembali, dan 51% perusahaan tutup dalam 2 tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa Disaster Recovery Plan (DRP) sangatlah penting. Berikut beberapa alasan lainnya :

·           Perangkat keras dan mesin yang rusak. Meskipun reliabilitas suatu teknologi sudah berada pada level yang terbaru, atau jarang terjadi kegagalan, namun faktanya semua perangkat teknologi akan tetap memiliki kekurangan, kelemahan, serta rentan rusak. Dengan kenyataan demikian, akan menjadi sangat mahal bagi sebuah perusahaan untuk menghapus atau memperbaiki masing-masing kegagalan pada infrastruktur IT. Maka memiliki Disaster Recovery Plan merupakan cara yang terbaik untuk mengamankan data-data yang penting akibat kegagalan suatu perangkat keras.

·           Seperti layaknya mesin, manusia tidaklah sempurna. Pernahkah Anda mengerjakan suatu pekerjaan dengan sangat sungguh-sungguh namun menyesal karena lupa menyimpan? Ironisnya, hal itu sering sekali terjadi. Sama halnya dengan sistem firewall, anti-virus, dan anti-spyware yang merupakan suatu bentuk perlindungan data dari serangan yang tidak diinginkan. Software tersebut hanya memastikan bahwa data akan aman serta dapat diandalkan saat tiba-tiba terjadi downtime. Namun, bagaimana jika ada suatu perusahaan yang melakukan kebijakan tidak boleh ada data loss saat terjadi downtime? Disaster Recovery Plan jawabannya.

·           Konsumen menuntut kesempurnaan sistem. Masih ingat sebuah kata-kata lama bahwa konsumen adalah raja? Ya, konsumen selalu menuntut kesempurnaan, apapun hal yang terjadi dibelakang sistem tersebut, konsumen enggan mencari tahu dan hanya ingin mendapat yang terbaik dalam pelayanannya. Dengan tingkat kompetisi yang semakin tinggi, memaksa perusahaan untuk lebih transparan dan akuntabel. Dengan Disaster Recovery Plan Anda tidak akan kesulitan dalam meyakinkan konsumen terkait masalah transparansi dan akuntabilitas data. 

Bangun Sistem Disaster Recovery Plan yang Solid untuk Bangun Kepercayaan Konsumen dan Selamatkan Bisnis
Tidak ada bisnis yang tidak rentan terhadap bencana IT, namun pemulihan cepat dengan adanya Disaster Recovery Plan  yang baik merupakan tuntutan konsumen. Terlalu banyak bisnis yang gagal karena kurangnya mempersiapkan segala kemungkinan bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Meski solusi sederhana seperti backup sangat mudah menyelamatkan hal tersebut, namun jika Anda belum menyiapkan Disaster Recovery Plan, maka tentu hal ini harus menjadi prioritas utama bagi perusahaan Anda.

Syarat-Syarat Membuat Disaster Recovery Plan (DRP)
Berdasarkan National Institute of Standards and Technology (NIST) edisi publikasi 800-34 tentang Panduan Perencanaan sistem informasi, hal-hal yang dibutuhkan dalam membangun Disaster Recovery Plan (DRP) adalah sebagai berikut:

·           Mengembangkan kebijakan perencanaan.  Kebijakan legal yang sifatnya mengikat  ini dibuat untuk mendukung dalam perencanaan dalam mengembangkan Disaster Recovery Plan (DRP).

·           Melakukan analisis dampak bisnis. Anda dapat berbicara dengan perusahaan konsultan atau rekanan pihak ketiga yang Anda pilih untuk mengidentifikasi serta memprioritaskan sistem dan komponen IT yang paling kritis.

·           Mengidentifikasi upaya pencegahan. Ini adalah acuan yg dapat dipakai untuk mengurangi efek dari gangguan sistem, dapat juga meningkatkan ketersediaan sistem dan mengurangi biaya-biaya tidak terduga dari segi usia pemakaian hardware.

·           Mengembangkan strategi recovery. Strategi recovery dan backup yang cermat akan membuat pemulihan lebih cepat dan efektif akibat gangguan tersebut.

·           Rencanakan untuk uji coba, latihan hingga menjalankan agar Disaster Recovery Plan berjalan sesuai dengan skema yang diinginkan.

·           Perencanaan dan perawatan. Semua perencanaan harus ditulis dalam dokumen yang harus diperbarui seiring dengan peningkatan sistem yang baru.

Langkah-Langkah Membuat Disaster Recovery Plan (DRP)
Dengan mengetahui struktur sesuai SP 800-34. Anda dapat membuat beberapa langkah dalam penerapan Disaster Recovery Plan (DRP) sebagai berikut :

  1. Tim perencanaan Disaster Recovery Plan (DRP) harus bertemu dengan tim IT, software developer dan network administrator. Hal-hal yang dperlu dibahas antara lain seperti internal element, aset eksternal, hingga keterlibatan pihak ketiga. Pastikan rencana Anda terkomunikasikan dengan semua senior departemen IT.
  2. Kumpulkan semua data yang relevan terkait infrastruktur. Misalnya diagram jaringan, peralatan konfigurasi, dan database.
  3. Pastikan Anda mengetahui dokumen-dokumen terkait jaringan yang akan digunakan dalam Disaster Recovery Plan (DRP). Jika belum ada, lanjutkan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Ø  Identifikasi masalah dengan pihak manajemen terkait ancaman paling serius di lingkungan terhadap Infrastruktur IT, seperti kebakaran, kesalahan manusia, masalah kelistrikan atau kegagalan sistem.
Ø  Identifikasi masalah dengan pihak manajemen terkait masalah paling rentan dalam Infrastruktur IT seperti tidak adanya listrik cadangan, database yang telah kadaluarsa dan lain-lain.
Ø  Ulas kembali riwayat dari gangguan dan bagaimana menangani masalah tersebut.
Ø  Identifikasi tentang aset paling penting di perusahaan seperti call center, server dan akses internet.
Ø  Buat peraturan mengenai waktu maksimal yang dibutuhkan manajemen untuk menerima aset IT yang tersedia.
Ø  Identifikasi prosedur operasional yang saat ini digunakan dalam merespon gangguan kritis.
Ø  Menentukan kapan prosedur ini terakhir diuji hingga memvalidasi kesesuaiannya.

4. Identifikasi tim respon darurat untuk semua gangguan infrastruktur IT. Tentukan level tim respon darurat tersebut dalam pelatihan suatu sistem kritis, terutama dalam keadaan darurat.

5.  Identifikasi vendor atau pihak ketiga yang akan Anda ajak kerja sama, teliti keunggulan dan pengalaman perusahaan tersebut. Pilih perusahaan yang menyediakan garansi dan telah tersertifikasi terutama mengenai keamanan data. Selain data Anda akan ditangani dengan baik, tidak akan ada kebocoran atau serangan terhadap data Anda.

6. Kumpulkan hasil dari segala asesmen yang telah dilakukan dalam bentuk analisa. Identifikasi apa yang telah dilakukan dan yang harus dilakukan, dengan rekomendasi  bagaimana cara mencapai, tingkat persiapan serta perkiraan berapa investasi yang dibutuhkan.

7. Minta seluruh manajemen meninjau  mengulas hasil laporan dan menyetujui tindakan yang direkomendasikan.

8 . Persiapkan IT Disaster Recovery Plan yang ditujukan untuk sistem dan jaringan yang paling vital/ kritis.

9. Lakukan uji coba dengan membuat simulasi bencana yang mengharuskan Anda harus memulihkan data.

10. Selalu perbarui dokumen yang Anda gunakan dalam Disaster Recovery Plan. Setiap Disaster Recovery Plan haruslah memiliki dokumentasi yang kuat dan menyeluruh yang mencakup inventaris terperinci tentang peralatan dalam infrastruktur. Hal ini akan membantu mempertahankan manajemen aset yang baik.

11. Jadwalkan secara berkala peninjauan atau audit terkait Disaster Recovery Plan (DRP) yang Anda miliki.


Memiliki Disaster Recovery Plan (DRP) merupakan sebuah prioritas utama setiap perusahaan yang sangat menggantungkan datanya pada sistem digital. Disaster Recovery Plan (DRP) membuat Anda tidak perlu khawatir akan bencana yang tiba-tiba terjadi pada bisnis, karena tentunya keamanan data konsumen merupakan prioritas  yang utama. Menggandeng perusahaan IT provider yang telah terpercaya dan bersertifikasi ISO27001 seperti Wowrack Indonesia, merupakan solusi yang tepat bagi Anda tanpa harus mengkhawatirkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan recovery. Cek website www.wowrack.co.id, atau hubungi sales@wowrack.co.id dan telepon (031) 6000 2888 untuk mendapatkan informasi lengkap tentang layanan Wowrack Indonesia. Temukan layanan IT yang paling sesuai untuk bisnis dan perusahaan Anda. 

Friday, November 23, 2018

Bagaimana melindungi Keamanan Privacy SmartPhone Anda



Berbicara mengenai smartphone, aspek yang sangat penting untuk diperhatikan adalah keamanan suatu smartphone tersebut. Berkat teknologi cloud computing yang telah diadopsi oleh semua smartphone, kita bisa meninggalkan kebiasaan lama yang cenderung konservatif dimana melakukan metode penyimpanan masih dalam bentuk fisik seperti flash disk atau hard disk eksternal. Melalui cloud computing, semua mampu terkoneksi dengan cepat karena semua bisa ter-digitalisasi yang dapat diakses lebih mudah dan cepat. Aspek keamanan ini biasa disebut dengan istilah cloud security. 

Cloud security merujuk pada keamanan sistem cloud yang terkenal dengan aksesibilitas atau dapat diakses oleh siapapun. Aksesibilitas yang bisa diakses oleh siapapun ini menyebabkan cloud computing justru diragukan keamanannya dikarenakan cloud bisa diakses oleh siapapun, dan dimanapun. Anda hanya memerlukan username dan password yang anda buat sendiri untuk mengakses cloud anda. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana Cloud Security menjawab keraguan ini ?

Cloud security mengacu pada serangkaian kebijakan, teknologi, dan kontrol yang diterapkan untuk melindungi data, aplikasi, dan infrastruktur cloud computing yang terkait. Cloud security adalah sub-domain keamanan komputer, keamanan jaringan, dan, lebih luas lagi, keamanan informasi. Semakin hari keamanan sebuah smartphone meningkat seiring dengan dengan kesadaran perusahaan untuk melindungi data dari pengguna. Cloud security ditingkatkan seiring dengan perkembangan penggunaan cloud di berbagai aspek khususnya smartphone. Cloud security perlu dilakukan tidak hanya dilakukan oleh perusahaan yang menyediakan cloud computing, namun juga individu selaku pengguna cloud computing itu sendiri. Berikut ulasannya :

Mengapa smartphone perlu mendapat perhatian khusus dalam cloud security ini?

Smartphone merupakan hasil dari kemajuan teknologi informasi yang saat ini sudah bersanding dengan kehidupan kita. Smartphone tidak lagi menggunakan penyimpanan konvensional yang sebelumnya dipakai oleh teknologi telepon genggam sebelumnya. Cloud memiliki peran penting dalam menjaga konektivitas antara smartphone, PC dan berbagai alat elektronik untuk mengintegrasikan dan mempermudah keseharian manusia masa kini. Dalam kaitannya dengan cloud security, smartphone menjadi sentral karena selain menyimpan data terkait pekerja, pengguna juga menggunakan smartphone untuk kebutuhan sosialnya.

Dalam hal ini, cloud security menjadi penting karena salah satu tujuan utamanya adalah menjaga keamanan dan privasi anda di smartphone. Dua produsen utama untuk smartphone saat ini yakni Google dengan sistem operasi androidnya dan Apple dengan sistem operasi iOS telah meningkatkan kenyamanan konsumen hingga banyak konsumen yang merasa aman dengan hal tersebut dan bebas membawa smartphone mereka kemanapun. Namun, banyak konsumen yang tidak sadar dengan software yang mereka install di ponsel dapat mendeteksi dimanapun mereka berada yang sangat berkaitan dengan keamananan. Meskipun anda pengguna iOS atau perangkat android, apple dan google dapat memperoleh setiap detail data anda dan mereka sangat mengetahui bagaimana cara menggunakan data tersebut. Data yang dapat diperoleh diantaranya adalah tempat yang anda tuju, aplikasi yang anda jalankan, riwayat pencarian yang anda lakukan di browser dan sebagainya. Merasa tertipu? Mungkin anda belum membaca detail privacy policies sebelum menggunakan layanan produk mereka sebagai standar security ini.

Sebagai informasi, perusahaan menggunakan data tersebut untuk membantu anda dalam banyak hal. Contoh, Apple menggunakan data tersebut untuk memperbaiki perangkatnya dari sisi software jika terjadi bugs pada perangkat yang menggunakan iOS, sementara Google menggunakan lokasi anda untuk memberitahu estimasi waktu perjalanan anda. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, apakah anda nyaman dengan layanan tersebut? Bentuk perhatian berlebihan yang diberikan oleh teknologi terkadang mengganggu privasi konsumen itu sendiri.  Jika anda merasa benefit yang diberikan berlebihan, anda tetap bisa memutuskan apa yang bisa anda bagikan dan bagaimana anda membatasi hal tersebut.

Apapun sistem operasi yang anda gunakan, pengaturan privasi telepon anda dapat diatur mengenai data apa yang bisa diambil oleh Google dan Apple atau pihak pengembang. Berikut adalah cara bagaimana anda bisa melakukannya yang merupakan security bagi data anda.


image : pixabay

Privasi di IOS
Dalam Iphone, menu menu yang berhubungan dengan privasi dan security di pengaturan bisa dengan mudah ditemukan. Hal pertama yang bisa dilakukan, tekan tombol lokasi agar sistem servis akan merubah bagaimana lokasi anda dapat digunakan oleh Apple atau tidak. Matikan tombol Location-Based Apple Ads jika anda tidak ingin menerima iklan berdasar dimana lokasi terakhir anda berada. Menekan tombol frequent location, anda bisa mencegah iOS merekam jejak tempat yang akhir-akhir ini anda kunjungi yang terhubung dengan kelender, peta dan semua aplikasi yang anda install. Selain itu, anda dapat mematikan iklan yang akan masuk berdasarkan lokasi, anda juga bisa menghapus riwayat lokasi-lokasi yang pernah anda kunjungi.

Dalam pengaturan lokasi dapat ditemukan berbagai tombol yang bisa diatur apakah anda  berkenan untuk mengaktifkannya atau tidak. Dimulai dari My Find iPhone hingga Routing & Traffic. Ini merupakan bagian cloud security yang bisa pilih sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan anda untuk melindungi privasi anda. Selain itu, anda bisa menonaktifkan juga lokasi di masing-masing aplikasi di iPhone anda  jika anda menginginkannya.

Selain mengumpulkan informasi dari lokasi, Apple juga mengumpulkan informasi terkait kinerja hardware dan software perangkat anda. Kembali ke layar pengaturan privacy, tekan analytics, dan anda bisa kontrol seberapa banyak data yang akan kembali ke developer atau data base milik Apple. Apa keuntungan bagi anda ? pihak Apple biasanya menggunakan data ini untuk mengirimkan iklan yang relevan berdasar informasi dari data yang “tidak sengaja” anda bagi. Tekan menu Advertising lalu batasi pelacakan iklan untuk mematikan iklan yang dipersonalisasi di iOS. Anda juga bisa melakukan reset pengenal Iklan untuk menghapus semua data yang telah dikumpulkan sejauh ini.

Siri
Sebagai personal asisten, siri menghimpun banyak informasi tentang diri anda lewat iPhone setelah anda mengizinkannya dan ini juga rawan dari sisi security. Namun, beberapa pengguna justru tidak menggunakan teknologi personal assistant ini dengan maksimal dan tetap mengizinkan siri mengumpulkan informasi tentang diri anda melalui berbagai aktivitas yang anda lakukan menggunakan perangkat anda. Untuk membersihkan apapun yang Siri ketahui tentang anda. Hal yang perlu anda lakukan adalah dengan menonaktifkan Siri di pengaturan dan dictation (melalui keyboard dibawah menu general di pengaturan).

Jika kamu membuka menu browser Safari di pengaturan, kamu bisa menonaktifkan saran berbasis website yang pernah anda kunjungi sebelumnya dan membuat Safari berhenti menyimpan riwayat web-web yang sering anda kunjungi. Banyak hal yang bisa anda lakukan dengan pengaturan privasi iPhone, seperti riwayat iMessage yang bisa anda nonaktifkan agar tidak dilacak oleh Apple. Kunci dari privasi di iOS adalah anda harus fokus pada lokasi dan riwayat pencarian anda. Hal yang perlu diingat adalah, jika anda tidak menginginkan diri anda dilacak, anda juga tidak akan mendapatkan fitur yang bisa melacak keberadaan anda. Security di iPhone didesain agar anda juga mengatur privasi anda melalui antarmuka sederhana yang mereka buat.

image : piaxabay

Privasi di Android

Seperti sebelumnya dibahas, dibandingkan dengan Apple, aplikasi android yang dikembangkan google mengumpulkan data lebih banyak dibanding platform yang lain termasuk iOs. Meski banyak, google juga memberikan tampilan antar muka yang mudah agar pengguna mudah mengatur privasi mereka. Buka pengaturan di aplikasi android, tekan lokasi dan anda bisa menentukan data apa yang dapat dikumpulkan oleh google atau tidak. Hal ini merupakan bagian dari cloud security dari google untuk membuat penggunanya juga aktif dalam mengamankan datanya di perangkat.

Untuk mengatur data yang sudah masuk di android atau layanan google lain, pilih google dari pengaturan, masuk ke Privasi dan Personal info.  Anda bisa melakukan pengaturan ini melalui Privacy Checkup yang ditawarkan google atau dengan cara mengkonfigurasikan dengan cara berbeda secara manual : trek lokasi, pencarian riwayat website, perintah suara yang anda berikan dan yang lainnya. Seperti halnya layanan Apple, Anda bisa mengatur layanan yang dapat anda terima atau tidak. Jika anda setuju, Google akan mempelajari tentang apa yang anda cari di web selama ini dan memberikan saran yang lebih baik di masa mendatang jika anda melakukan penelusuran serupa.

Lebih jauh ke dalam Info Pribadi & layar privasi adalah opsi untuk pengaturan Iklan. Jika Anda mengetuk ini, Anda dapat memilih apakah iklan yang Anda lihat dipersonalisasi untuk Anda, dan bahkan memberi Google beberapa petunjuk tentang topik yang Anda minati, berdasarkan semua yang Anda lakukan dengan aplikasi Google dan Android di masa lalu.




Pengaturan Privasi masing-masing aplikasi
Google mengumpulkan dari banyak sumber, termasuk aplikasi yang anda pasang di smartphone anda maupun yang terhubung di TV maupun perangkat elektronik lain yang terhubung dengan perangkat android anda. Masing- masing aplikasi di android punya pengaturan yang memungkinkan anda untuk mengontrol privasi apa yang ingin anda bagikan. Jika tidak terlalu menggunakan aplikasi tersebut, jangan biarkan aplikasi tersebut mengumpulkan data terus menerus. Seperti aplikasi yang mencatat waktu lari anda, ia memerlukan izin lokasi hingga hal personal terkait kesehatan anda, anda bisa mematikan izin tersebut jika anda sudah tidak menggunakannya.

Kesimpulan
Privasi merupakan bagian dari perlindungan Cloud Security. Cloud Security mencakup kebijakan yang melindungi data konsumen yang dilakukan oleh provider maupun privasi yang dapat dikontrol oleh pengguna itu sendiri. Smartphone yang merupakan teknologi tak terpisahkan menyimpan banyak privasi yang sangat berhubungan dengan data penggunanya. Dua raksasa smartphone dunia yakni Google dan Apple memberikan perlindungan dan meningkatkan kenyamanan pengguna. Namun, kenyamanan sering menunjukkan ketidak harmonisan dengan keamanan (security). Dengan kenyamanan yang tinggi pula, security seolah mencoba menghambat kenyamanan teknologi yang sangat berguna bagi manusia, padahal security tersebut justru mencoba menjaga dari kemungkinan terburuk dari penggunaan teknologi. Untuk meningkatkan kesadaran tersebut, pengguna dapat menjaga data yang bisa dibagikan dan tidak lewat pengaturan privasi dan lokasi yang dibagikan. Jaga privasi dan security dari perangkat anda dengan hanya membagikan hal yang sesuai dengan kebutuhan anda.