Lindungi Data Bisnis Anda dengan Disaster Recovery Plan (DRP)

Gambar: Bencana pada sistem IT (sumber: pixabay.com)

Bisnis
mengadopsi teknologi informasi dengan sangat cepat. Pemrosesan data
serta segala aktivitas bisnis
tidak
hanya menggunakan
konsep manual
lagi, melainkan
telah terdigitalisasi. Aktivitas sehari-hari seperti mengirim email, menelepon
menggunakan
aplikasi atau platform berbasis
internet
, hingga pembayaran gaji karyawan atau
kebutuhan finansial lainnya
dapat dilakukan
melalui internet. Untuk melakukan berbagai hal, sekarang Anda tinggal
memanfaatkan smartphone maupun gadget dan komputer yang Anda miliki
. Perubahan dalam bentuk digitalisasi mengakibatkan sebuah bisnis harus membangun suatu
sistem yang efisien serta efektif
untuk kebutuhan internal maupun eksternal perusahaan. Digitalisasi bisnis
tersebut akhirnya juga
dapat membuat suatu perusahaan menerapkan kebijakan baru
terkait
keamanan data. 


Dahulu, penyimpanan data dilakukan dengan cara tradisional, yaitu dengan cara
menyimpan
kertas data kedalam brankas maupun lemari arsip, kemudian
evolusi
digital mulai
terjadi dengan metode penyimpanan data pada hard
drive
seperti
hard disk, flashdisk, dan lain sebagainya.
Namun,
saat ini metode serta media penyimpanan data tersebut sudah dianggap tidak aman, hal ini dikarenakan, media penyimpanan tersebut
tidak menawarkan sisi fleksibilitas yang saat ini justru sangat dibutuhkan oleh
suatu perusahaan dalam menyimpan data maupun informasi yang dimilikinya.
Migrasi
data ke sistem cloud juga menjadi penanda bahwa era industri digitalisasi telah
dimulai. Data yang disimpan pada
sistem cloud lebih mudah diakses serta
mudah dalam pengelolaannya. Data cloud juga
dapat
diakses
oleh user yang
memiliki akses tersebut dimanapun dan kapanpun
asal terkoneksi dengan jaringan internet.
Hal-hal konvensional
lain seperti tempat dan waktu sudah bukan penghalang bagi suatu bisnis yang
ingin mengakses
dan mengolah data-datanya. Namun kemudahan serta fleksibilitas cloud ini sering dianggap lawan dari sisi
keamanan itu sendiri. Pada
dasarnya sistem
cloud didesain tidak hanya menggunakan
satu layer keamanan,
melainkan berlapis-lapis mulai dari tier 1 hingga tier 3 bahkan lebih. Kelebihan inilah yang
mengakibatkan cloud dipercaya karena fleksibilitas
serta keamanannya yang
terjaga.
Keamanan
yang terjaga dan dapat diandalkan
ini
merupakan keharusan
layanan cloud agar mendapat kepercayaan dari konsumen. Garansi
less down time serta lokasi data center yang aman serta strategis, dan tentunya server yang aman
merupakan tanggung jawab yang harus dimiliki oleh
perusahan provider cloud. Tujuannya adalah supaya
data-data yang tersimpan pada sistem cloud terhindar dari
resiko-resiko yang dapat mengakibatkan data
hilang atau rusak. Setelah semua
persyaratan
terpenuhi, pertanyaan lain yang muncul adalah bagaimana tentang bencana yang tiba-tiba
atau tidak dapat di
prediksi? Bagaimana cara mengatasi bencana serta
merencanakan Disaster Recovery Plan
(DRP) yang baik dan tepat? Apakah setiap
perusahaan harus memiliki Disaster
Recovery Plan
? Apakah
layanan Disaster Recovery Plan termasuk kedalam layanan yang disediakan oleh sebuah
perusahaan provider c
loud?
Apa yang Dimaksud dengan Disaster Recovery Plan (DRP)
Disaster Recovery Plan atau DRP merupakan suatu tindakan yang dilakukan sebelum dan sesudah
bencana terjadi.
Menyusun atau
membuat DRP
bertujuan untuk meminimalisir dampak diakibatkan oleh sebuah bencana,
misalnya untuk
melindungi data-data penting dari bisnis yang
Anda miliki
seperti data penjualan, perilaku
konsumen hingga data-data
sensitif yang berkaitan dengan konsumen. Hal yang perlu menjadi fokus dalam
mengadopsi
sistem Disaster
Recovery Plan (DRP) adalah
memahami fakta
bahwa
bencana merupakan sesuatu yang tidak dapat
diprediksi, direncanakan, namun
bisa dihindari. DRP membantu mengembalikan fungsi-fungsi critical sebuah sistem ke fungsi awal atau semestinya setelah
terkena bencana. DRP dapat membantu
meminimalisir dampak kerusakan yang dapat berpotensi mengganggu
bisnis Anda. DRP juga dapat mengembalikan operasional
perusahaan dengan cepat.
Mengapa Disaster Recovery Plan (DRP) ini
Penting?
Telah banyak kasus data
loss
maupun pencurian data dalam dunia teknologi dewasa ini. Sebuah
kesalahan sederhana dapat berujung menjadi sebuah bencana bisnis yang berkaitan
dengan keuangan perusahaan
. Berdasarkan survey
yang dilakukan oleh National Small
Business Poll
atau NFIB,
sebesar 10% disaster disebabkan oleh faktor
human error dan

bersifat teknis. Sedangkan secara mengejutkan
, sebesar 30% disebabkan oleh bencana alam. Hal
sederhana seperti hujan
dapat menyebabkan listrik padam dan
menyebabkan resiko kerugian yang besar. Menurut penelitian
yang dilakukan oleh University of Texas
, menunjukkan fakta bahwa hanya 6% perusahaan yang mampu bertahan dan mengembalikan data mereka, sebanyak 43% data tidak dapat diakses
kembali
,
dan 51
% perusahaan tutup dalam 2 tahun
terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa Disaster
Recovery Plan
(DRP) sangatlah penting. Berikut beberapa alasan lainnya :

·          
Perangkat keras dan mesin yang rusak. Meskipun
reliabilitas suatu teknologi sudah berada pada level yang
terbaru, atau jarang terjadi
kegagalan, namun
faktanya semua perangkat teknologi akan
tetap memiliki kekurangan, kelemahan, serta
rentan
rusak. Dengan kenyataan
demikian, akan menjadi sangat mahal bagi sebuah
perusahaan untuk
menghapus atau memperbaiki masing-masing kegagalan pada infrastruktur IT. Maka memiliki Disaster Recovery Plan merupakan cara yang terbaik untuk
mengamankan data-data yang penting akibat kegagalan suatu perangkat keras.

·          
Seperti layaknya mesin, manusia tidaklah sempurna. Pernahkah Anda mengerjakan suatu pekerjaan dengan sangat sungguh-sungguh
namun menyesal karena lupa menyimpan?
Ironisnya,
hal itu
sering sekali terjadi.
Sama halnya dengan
sistem firewall, anti-virus, dan anti-spyware yang merupakan suatu bentuk perlindungan
data dari serangan yang tidak diinginkan. Software tersebut hanya memastikan
bahwa data
akan
aman
serta dapat
diandalkan
saat
tiba-tiba terjadi downtime. Namun, bagaimana jika ada suatu perusahaan yang melakukan kebijakan tidak boleh ada data loss saat terjadi downtime? Disaster Recovery Plan jawabannya.

·          
Konsumen menuntut kesempurnaan sistem.
Masih ingat sebuah kata-kata lama bahwa konsumen adalah raja? Ya, konsumen
selalu menuntut kesempurnaan, apapun hal yang terjadi dibelakang sistem
tersebut
, konsumen enggan mencari tahu dan
hanya ingin mendapat yang terbaik dalam pelayanannya. Dengan tingkat kompetisi
yang semakin tinggi
, memaksa perusahaan untuk lebih transparan dan akuntabel. Dengan Disaster Recovery Plan Anda tidak akan
kesu
litan
dalam meyakinkan konsumen
terkait masalah transparansi dan akuntabilitas data. 
Bangun Sistem Disaster Recovery Plan yang Solid untuk Bangun
Kepercayaan Konsumen dan Selamatkan Bisnis
Tidak
ada bisnis yang tidak rentan terhadap bencana IT, namun pemulihan cepat dengan
adanya Disaster Recovery Plan  yang baik
merupakan
tuntutan konsumen. Terlalu banyak bisnis yang gagal karena
kuran
gnya
mempersiapkan
segala kemungkinan
bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Meski solusi sederhana seperti backup sangat mudah menyelamatkan hal
tersebut, namun
jika Anda belum menyiapkan Disaster
Recovery Plan
,
maka tentu hal ini harus menjadi prioritas utama bagi perusahaan Anda.
Syarat-Syarat Membuat Disaster Recovery Plan (DRP)
Berdasarkan
National Institute of Standards and
Technology (NIST)
edisi publikasi 800-34 tentang Panduan Perencanaan sistem
informasi, hal-hal yang dibutuhkan dalam membangun Disaster Recovery Plan (DRP) adalah sebagai berikut:
·          
Mengembangkan kebijakan
perencanaan.  Kebijakan legal yang
sifatnya mengikat  ini dibuat untuk
mendukung dalam perencanaan dalam mengembangkan Disaster Recovery Plan (DRP).


·          
Melakukan analisis
dampak bisnis. Anda dapat berbicara dengan perusahaan konsultan atau rekanan
pihak ketiga yang Anda
pilih untuk mengidentifikasi serta memprioritaskan sistem dan komponen IT
yang paling kritis.


·          
Mengidentifikasi upaya
pencegahan. Ini adalah acuan yg dapat dipakai untuk mengurangi efek dari
gangguan sistem, dapat juga meningkatkan ketersediaan sistem dan mengurangi
biaya-biaya t
idak
terduga dari segi usia pemakaian hardware
.

·          
Mengembangkan strategi recovery. Strategi recovery dan backup yang
cermat akan membuat pemulihan lebih cepat dan efektif akibat gangguan tersebut.


·          
Rencanakan untuk uji
coba, latihan hingga menjalankan agar Disaster
Recovery Plan
berjalan sesuai dengan skema yang diinginkan.


·          
Perencanaan dan perawatan. Semua
perencanaan harus ditulis dalam dokumen yang harus diperbarui seiring dengan
peningkatan sistem yang baru.
Langkah-Langkah Membuat
Disaster Recovery Plan (DRP)
Dengan
mengetahui struktur sesuai SP 800-34. Anda dapat membuat beberapa langkah dalam
penerapan Disaster Recovery Plan (DRP) sebagai
berikut :
  1. Tim perencanaan Disaster
    Recovery Plan (DRP)
    harus bertemu dengan tim IT, software developer dan network
    administrator
    . Hal-hal yang dperlu dibahas
    antara lain seperti internal element,
    aset eksternal, hingga keterlibatan pihak ketiga. Pastikan rencana Anda
    terkomunikasikan dengan semua senior departemen IT.
  2. Kumpulkan semua data yang relevan terkait
    infrastruktur. Misal
    nya diagram jaringan, peralatan konfigurasi, dan
    database.
  3. Pastikan Anda mengetahui dokumen-dokumen terkait
    jaringan yang akan digunakan dalam Disaster
    Recovery Plan
    (DRP). Jika belum ada, lanjutkan dengan langkah-langkah
    sebagai berikut
    :
Ø  Identifikasi masalah dengan pihak manajemen terkait ancaman paling
serius di lingkungan terhadap Infrastruktur IT
, seperti kebakaran, kesalahan manusia, masalah kelistrikan atau
kegagalan sistem
.
Ø  Identifikasi masalah dengan pihak manajemen terkait masalah paling
rentan dalam Infrastruktur IT seperti tidak adanya listrik cadangan, database
yang telah kadaluarsa dan lain-lain.
Ø  Ulas kembali riwayat dari gangguan dan bagaimana menangani masalah
tersebut.
Ø  Identifikasi tentang aset paling penting di perusahaan seperti call center, server dan akses internet.
Ø  Buat peraturan mengenai waktu maksimal yang dibutuhkan manajemen untuk
menerima aset IT yang tersedia.
Ø  Identifikasi prosedur operasional yang saat ini digunakan dalam merespon
gangguan kritis.
Ø  Menentukan kapan prosedur ini terakhir diuji hingga memvalidasi
kesesuaiannya.
4.
Identifikasi tim respon darurat untuk semua gangguan infrastruktur
IT. Tentukan level tim respon darurat tersebut
dalam pelatihan suatu sistem kritis,
terutama dalam keadaan darurat.

5.  Identifikasi vendor atau pihak ketiga yang
akan Anda ajak kerja sama, teliti keunggulan dan pengalaman perusahaan tersebut.
Pilih perusahaan yang menyediakan garansi dan telah tersertifikasi
terutama mengenai keamanan data.
Selain data Anda akan ditangani dengan baik, tidak akan ada kebocoran atau
serangan terhadap data Anda.

6.
Kumpulkan hasil dari segala asesmen yang telah dilakukan dalam bentuk analisa.
Identifikasi apa yang telah dilakukan dan yang harus dilakukan, dengan
rekomendasi  bagaimana cara mencapai,
tingkat persiapan serta perkiraan berapa investasi yang dibutuhkan.
7.
Minta seluruh manajemen meninjau 
mengulas hasil laporan dan menyetujui tindakan yang direkomendasikan.
8
. Persiapkan IT Disaster Recovery Plan yang ditujukan untuk sistem dan jaringan
yang paling vital/ kritis.
9.
Lakukan uji coba dengan membuat simulasi bencana yang mengharuskan Anda harus
memulihkan data.
10.
Selalu perbarui dokumen yang
Anda gunakan dalam Disaster
Recovery Plan
. Setiap Disaster
Recovery Plan
haruslah memiliki dokumentasi yang kuat dan menyeluruh yang
mencakup inventaris terperinci
tentang peralatan dalam infrastruktur. Hal ini akan membantu mempertahankan
manajemen aset yang baik.
11.
Jadwalkan secara berkala peninjauan atau audit terkait Disaster Recovery Plan (DRP)
yang
Anda miliki.

Memiliki
Disaster Recovery Plan (DRP)
merupakan sebuah prioritas utama setiap
perusahaan yang sangat menggantungkan datanya pada sistem digital. Disaster Recovery Plan (DRP) membuat Anda tidak
perlu khawatir akan bencana yang tiba-tiba terjadi pada bisnis, karena tentunya keamanan
data konsumen merupakan prioritas
 yang utama.
Menggandeng perusahaan
IT provider yang telah terpercaya dan bersertifikasi ISO27001 seperti Wowrack Indonesia, merupakan solusi yang tepat bagi Anda
tanpa harus mengkhawatirkan b
esarnya biaya
yang harus dikeluarkan untuk
kebutuhan recovery. Cek website www.wowrack.co.id,
atau hubungi sales@wowrack.co.id
dan telepon (031) 6000 2888 untuk mendapatkan informasi lengkap tentang layanan
Wowrack Indonesia. Temukan layanan IT yang paling sesuai untuk bisnis dan
perusahaan Anda. 
Blog Wowrack Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

See More

Latest Article

Optimalkan kinerja bisnis sesuai kebutuhan Anda dengan layanan fleksibel Wowrack